Senin, 28 Mei 2018

Malam Horor Di Stadion Olimpiyskiy

Sumber: thisisanfield.com

Aku tidak pernah sesedih ini melihat klub kesayanganku, yaitu Liverpool F.C, kalah dalam sebuah pertandingan. Jujur, aku sudah terbiasa dengan kekalahan Liverpool dan juga sudah terbiasa melihat "lawakan" beberapa pemainnya. Efek dari pepatah Kakek Bill Shankly memang merasuk di hatiku. Oh tentu, aku akan selalu mendukung Liverpool F.C apapun yang terjadi. Namun, pada tulisan kali ini aku ingin mencurahkan isi hatiku.

Sudah hampir dua hari aku menangis. Horor bagi pria-pria favoritku terjadi pada final Liga Champions 26 Mei kemarin di Stadion Olimpiyskiy Kiev, melawan Real Madrid. Adegan horor itu terjadi pada pertandingan final yang sudah aku tunggu-tunggu lebih dari 10 tahun. Final yang aku damba-dambakan setelah melihat performa dan perjalanan Liverpool yang luar biasa pada Liga Champions musim ini.

Selama mengikuti seluruh pertandingan Liverpool di UCL musim ini, aku selalu berbaik sangka. Bahkan ketika final kemarin, saat menonton pertandingan, aku terus berharap dan berdoa agar Liverpool bisa membawa pulang trofi Liga Champions sekali lagi dan lagi dan lagi. Namun, harapan itu sirna.

Aku mulai melenguh dan mengeluh ketika Mohamed Salah terpelanting setelah duel dengan Sergio Ramos. Aku mulai khawatir, tetapi melihat Salah bangkit lagi, aku pun menghela nafas lega. Tidak lama setelah itu, Salah terlentang lagi di tanah. Ternyata, rasa sakit di bahunya tak tertahankan. Salah pun menangis karena tidak bisa melanjutkan pertandingan dan membuat kedua mataku penuh dengan air mata. Aku hanya terdiam dan membiarkan air mata mengalir. Pada titik itu, aku mulai hilang harapan.

Adikku mencoba menghibur dan berkata bahwa tidak apa-apa karena masih ada Sadio Mane. Oh, benar juga. Tetapi, performa para pemain Liverpool sepertinya menurun setelah Salah keluar. Entahlah. Yang jelas, setelah babak kedua, adegan horor pun terjadi kembali.

Entah saat itu apa yang ada di dalam pikiran sang penjaga gawang, Loris Karius. Dia melempar bola padahal di depannya masih ada Karim Benzema. Jelas, Benzema tidak mau kehilangan kesempatan dan menyodorkan kakinya ke arah bola dan gol pertama pun terjadi. Gol ini memang sedikit konyol untuk sebuah pertandingan besar. Bahkan wajah Karius saat itu bingung. Aku dan adikku pun juga ikut bingung. Kapten Liverpool, Jordan Henderson juga bingung bahkan setelah pertandingan sudah selesai. Tetapi, gol itu adalah gol yang sah. Real Madrid memimpin 1-0.

Karena masih satu gol yang dicetak Real Madrid, aku masih tenang. Ditambah tidak lama kemudian Mane mencetak gol. Skor pun imbang 1-1. Saat itu aku berpikir apakah skor ini akan bertahan sampai lewat extra time. Kalau begitu akan terjadi adu penalti. Entah mengapa aku suka dengan drama penalti. Adrenalinnya kencang soalnya. 😂

Namun, takdir berkata lain. Gareth Bale mencetak dua gol indah. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Karius pun terduduk sedih di depan gawangnya. Setelah itu, dia berdiri dan berjalan ke arah tribun yang dipenuhi para Kopites, menangis dan meminta maaf. Tentu saja di internet banyak yang menghujat Karius bahkan meme tentang betapa lemahnya tangan Karius bermunculan.

Hancur sih hatiku. Aku tahu Karius melawak di final, tetapi kumohon kawan, janganlah hujat Karius. Dia masih muda, rapuh, dan tidak stabil. Jangan hanya salahkan Karius, banyak faktor yang membuat Liverpool belum mampu menjuarai UCL lagi. Di samping itu, DNA Eropa Real Madrid yang kuat (yang juga menjuarai UCL dua musim belakangan ini) mungkin membuat skuad Liverpool kali ini grogi. Entahlah. Bisa juga faktor keluarnya Salah. Hmm.

Aku setuju kalau Liverpool mau beli penjaga gawang baru yang lebih stabil. Mungkin dengan begini, Karius terpacu menjadi lebih baik lagi. Ya, mari kita lihat kedepannya.

Head up Loris and all the reds lads!
Get well soon Akhi Mo Salah!
And so Ox :D I miss you so much!

You'll Never Walk Alone!

P.S: Meskipun aku tidak suka Real Madrid, aku ucapkan selamat atas trofi UCL yang telah diraih 3 kali berturut-turut, plus Gareth Bale luar biasa :D